Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Sebuah Inspirasi dari Tuhan
Thu Jan 13, 2011 1:36 pm by donald1710

» SNOWBAY.............
Thu Nov 11, 2010 6:09 pm by prisabagus

» KEBEBASAN TERLETAK PADA KETERIKATAN
Wed Oct 13, 2010 9:44 pm by prisabagus

» Tinggalkan segala sifat yang menyalahi kehambaan
Mon Sep 27, 2010 11:12 am by donald1710

» kebakaran di sunter ..
Mon Sep 06, 2010 12:00 pm by prisabagus

» PERSAUDARAAN ANTAR UMAT
Thu Sep 02, 2010 6:49 am by donald1710

» Lailatul Qadar
Thu Sep 02, 2010 3:17 am by donald1710

» Bubar bareng BENCOM
Tue Aug 31, 2010 1:50 pm by prisabagus

» bErnarsis riia dGn HenpOn BB-I
Tue Aug 31, 2010 12:27 pm by yhaniez Azhaar Verteawie

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Affiliates
free forum


*Syahwat Kemunafikan Kita*

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

*Syahwat Kemunafikan Kita*

Post  donald1710 on Tue Jul 20, 2010 4:50 pm

Ledakan berita Ariel-Luna memperjelas bahwa seksografik media kita masih
menyedot "syahwat" publik pornografis.
Sebuah potret masyarakat kita yang
sedang transisi di tengah kepentingan industri ekonomi, konflik, tontonan,
tuntunan agama, manipulasi, politik dan dendam, kekerasan seksual campur
aduk tanpa terkontrol oleh peradaban, budaya, dan pendidikan kita.

Inilah keretakan moral yang semakin menampakkan titik jenuhnya. Ariel-Luna
hanyalah momentum dari deretan sepanjang ledakan kontroversi budaya pop dari
Inul, Maria Eva, hingga Dewi Persik. Namun ada magma tersembunyi yang
sengaja ditutupi oleh rasa "sok suci" publik kita, dengan seringnya
berteriak menudingkan jari telunjuk, tetapi tiga jarinya sedang menuding
diri sendiri. Kemunafikan dan keangkuhan seperti ini sangat dimanja oleh
industri hedonis yang mengelaborasi sisi lemah masyarakat untuk dijadikan
komoditas yang memabukkan.

Dalam kontroversi Inul "*ngebor*" beberapa tahun silam, mestinya para
pemimpin bangsa langsung berkontemplasi bahwa sudah sekian puluh tahun para
pemimpin kita tidak menggunakan akal sehatnya untuk memimpin, bukan
menggunakan emosi syahwat Inul. Bahkan para ulamanya digambarkan dalam
lukisan oleh KH Mustofa Bisri berada dalam majlis zikir yang di
tengah-tengahnya ada penari yang *ngebor*. Sebuah potret luapan syahwat yang
pahit dalam beragama, dalam beritual, dan hilangnya keteladanan batin
anak-anak bangsa ini.

Dan pada saat ini, tidak satu pun lembaga, ormas keagamaan, ataupun tokoh
yang melihat peristiwa Ariel-Luna dengan forum kearifan, apalagi dengan
"kacamata Tuhan" yang penuh dengan pancaran kasih sayang dan kelembutan.
Semua muncul dengan nada marah, sekaligus pembenaran diri sendiri
. Apakah
kita harus meminum miras, lalu mabuk lebih dahulu untuk merasakan kenapa
minuman ini diharamkan, ketika sudah mabuk kita mengharamkan miras sembari
memecahkan botol-botolnya? Apa bedanya jika berjuta-juta pengguna seluler
menghujat Ariel-Luna, pada saat yang sama mereka secara sembunyi menikmati
video yang ada?


Sebagai umat beragama --menurut dimensi spiritual Islam (sufisme)-- tingkat
kearifan seseorang harus dikedepankan dalam memandang berbagai peristiwa
segelap apa pun. Teladan dari para sufi, ada cara pandang yang lebih
berhikmah dalam melihat kasus video porno tersebut. Seperti dikatakan Ibnu
Athaillah as-Sakandary, "Terkadang Allah menakdirkan hamba-Nya berbuat dosa,
agar si hamba lebih dekat kepada-Nya...."
Atau dalam hikmah lainnya,
"Maksiat yang menimbulkan remuk redam jiwa di depan Allah lebih baik
dibandingkan dengan ibadah yang melahirkan rasa sombong dan sok mulia...."

Terang dalam Gelap

Bukankah video itu sebagai "sindiran" Allah kepada bangsa ini agar tidak
munafik dengan diri sendiri? Bukankah cahaya Allah tampak semakin jelas
justru dari sisi kegelapan? Dan sebaliknya, betapa banyak kegelapan yang
subur di balik ritual ibadah, atas nama Tuhan, atas nama Nabi, atas nama
Islam? Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran, "Allah memasukkan malam dalam
siang, dan memasukkan siang dalam malam." Yang ditafsirkan oleh para sufi,
"Allah memasukkan maksiat dalam ibadah, dan memasukkan ibadah dalam
maksiat"?

Nabi Adam AS dan Hawa ditakdirkan bersalah di surga, karena memang nabi,
rasul, khalifah, serta bapak manusia itu harus diangkat derajatnya ketika
ada di muka bumi. Derajat risalah dan *nubuwwah* justru muncul pasca-dosa di
surga. Sebuah "rahasia Ilahi" yang sangat dramatis dan kelak menjadi
pelajaran bagi anak-cucu Adam itu sendiri bahwa sebesar apa pun dosa
seseorang, tidak boleh menghalangi prasangka baiknya (*husnudzon*) kepada
Allah SWT.

Rasanya sudah terlalu jenuh kita dicekoki oleh informasi yang paradoks dalam
keseharian batin kita, tapi juga respons publik yang sangat konyol dan
sombong. Kelak, jika kondisi ini berlarut, akan muncul kegamangan yang
membahayakan kejujuran hati kita. Luka-luka moral bukannya disembuhkan,
melainkan dibiarkan meradang agar ada kompensasi musuh bersama yang
kekanak-kanakan seperti yang kita lihat selama ini.

Sudah terlalu lama kita kehilangan "hikmah", bahkan kejujuran batin yang
bercahaya. Jangan sampai kita terjebak pada arena yang dihuni para penjahat
yang sedang berlomba membangun peradaban jahat tanpa sedikit pun merasa
jahat, karena cahaya tak pernah muncul di kegelapannya.

Juga jangan terjebak pada arena terang benderang yang dihuni stress people yang
merasa dirinya patuh pada Tuhannya, lalu membangun peradaban "cahaya" dari
kegelapan keangkuhan spiritualnya.

KH. M. Luqman Hakim
*Pengajar Pesantren Ciganjur, Jakarta*

donald1710

Jumlah posting : 22
Points : 53
Reputation : 1
Join date : 18.07.10

Lihat profil user http://www.sufinews.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik